TAHAP-TAHAP PEMBUATAN ROTI
1. Seleksi bahan-bahanBahan-bahan disiapkan sesuai dengan kebutuhan
dan diperiksa kualitasnya serta harus diketahui sifat-sifat bahan
tersebut. Bagi pengusaha harga haru diperhatikan untuk menghitung biaya
produksi dan harga jual. Selain itu, daya tahan bahan-bahan dan cara
penyimpanan yang baik harus diperhatikan.
2. Penimbangan bahan-bahanSemua
bahan ditimbang dengan baik, terutama ragi, garam, dan additive lainnya
harus ditimbang dengan teliti. Hindari pemakaian sendok/ cangkir/ gelas
sebagai takaran.
3. Pengadukan bahan (mixing)Fungsi
pengadukan adalah mencampur secara merata semua bahan, untuk mendapatkan
hidrasi yang sempurna dari kanji dan protein serta untuk pembentukan
gluten, dan pelunakan yang baik.
Dalam pengadukan dikenal, tahap-tahap:
a. Pick up, adalah keadaan semua bahan telah tercampur jadi satu adonan.
b. Clean up; adalah keadaan adonan sudah tidak melekat di tangan atau bowl mikser.
c. Develop; ditandai dengan adonan mulai terlihat licin/ halus permukaannya.
d.
Final/ kalis; adalah permukaan adonan licin, halus dan kering. Tahap
inilah yang merupakan tahap akhir dari proses pengadukan yang
diharapkan. Akan tetapi karena sesuatu hal, dapat saja terjadi dua
kejadian selanjutnya, yaitu.
e. Let Down; adonan mulai over mix (kelihatan basah, lengket, dan lembek.
f. Break Down; adonan sudah over mix dan sudah tidak elastis lagi. Pada keadaan ini, adonan sudah tidak bisa digunakan lagi/
4. Fermentasi (peragian)Fermentasi terbentuk karena aktifitas ragi yang mengolah karbohidrat, menghasilkan:
a. Gas CO2, adalah gas yang menyebabkan adonan mengembang
b. Alkohol, menyebabkan adonan mengembang dan memberi aroma
c. Asam, memberi rasa dan memperlunak gluten
d. Panas, dihasilkan pula dari proses fermentasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi adonan,
a. Jumlah ragi dalam adonan
b. Temperatur adonan
c. Keasamana
d. Absorpsi air
e. Jumlah beberapa bahan lain: garam, gula, susu dan sebagainya .
5. Potong/ timbangMembagi-bagi
adonan menurut berat yang dikehendaki, untuk menghasilkan produk yang
seragam, semestinya dikerjakan dalam waktu yang sesingkat mungkin,
mengingat proses teap berjalan terus dalam seluruh tahapan.
6. Membulatkan (rounding)Untuk
membentuk lapisan film sehingga dapat menahan gas-gas yang dihasilkan
selama proses peragian (final proff),d an memberi bentuk supaya mudah
dikerjakan.
7. Instirahat (Intermediate Proff)Membiarkan adonan
istirahat untuk memudahkan pengerolan. Waktu berkisar 6-10 menit.
Istirahat ini juga bergantung dari kondisi adonan.
8. Pengerolan (Shetting)Adonan ditipiskan menjadi lembaran dengan ketebalan yang diinginkan serta mengeluarkan gelembung gas dalam adonan.
9. Dipulung (Moulding)Memberi bentuk pada adonan sesuai jenis-jenis produk yang akan dihasilkan.
10. Meletakkan dalam cetakan/ loyangMeletakkan
adonan di tengah-tengah cetakan dengan sambungan di bagian bawah supaya
tidak terbuka dalam final proof atau pada saat DIBAKAR.
11. Istirahat Terakhir (Final Proofing)Bertujuan
mengembangkan adonan untuk mencapai bentuk dan mutu yang baik pada
temperatur 35-44˚C dengan kelembaban 80-85% dalam waktu 45-90 menit.
12. Pembakaran/ Pemanggangan Pada 5-6 menit pertama volume adonan bertambah (oven spring) Panas oven untuk jenis roti manis
±180˚C; untuk roti tawar ±210˚C
FUNGSI BAHAN-BAHAN DALAM PEMBUATAN ROTI
1. Tepung teriguTepung
terigu merupakan bahan utama dalam pembuatan roti. Tepung terigu
diproses atau digiling dari biji gandum (Triticum aesticum). Dalam
tepung terigu terdapat protein yang berfungsi mengikat/ mengabsorbsi air
membentuk gluten. Gluten berfungsi menahan gas CO2 yang dihasilkan
dalam proses fermentasi. Karbohidrat dari tepung terigu juga akan
menyerap air menjadi adonan bersama gluten, yang dengan adanya panas
dalam oven akan membentuk gelatin. Gluten dan gelatin ini merupakan
kerangka dan jaringan pada roti.
Tepung terigu yang dapat digunakan untuk membuat roti, adalah tepung terigu dengan kandungan protein minimal 11%.
2. AirAir
dalam pembuatan roti berfungsi sebagai pelarut semua bahan menjadi
adonan yang kompak. Protein bereaksi dengan air membentuk gluten.
Karbohidrat tepung bereaksi dengan air dibantu oleh panas sekitar 64oC
atau lebih. .Air berubah menjadi uap di dalam oven, menyebabkan
pengembangan roti menjadi pori-pori dari remah. Persyaratan air untuk
roti adalah pH netral, kandungan mineral normal (hardness 150-300 ppm)
dan layak untuk air minum.
3. RagiRagi berupa gumpalan jenis
jamur Saccaromices cerevisioae. Di dalam cairan sel ragi terdapat
sejumlah enzim yang berperan dalam proses fermentasi. Fungsi utama ragi
dalam pembuatan roti, adalah untuk mengembangkan adonan, membangkitkan
aroma dan rasa. Proses fermentasi menghasilkan gas CO2, asam, dan
alkohol. Asam berfungsi untuk melunakkan adonan supaya mudah dibentuk
setelah proses istirahat kedua. Alkohol yang bersifat cair dan gas mudah
menguap dan hilang pada proses pembakaran roti karena panas. Proses
fermentasi yang ideal apabila terdapat keseimbangan antara
faktor-faktor, antara lain: jumlah ragi, gula, garam, air, suhu serta
derajat keasaman adonan. Jumlah ragi tergantung jenis ragi sebagai
pedoman adalah ragi instan. Bila menggunakan ragi kering dan atau ragi
basah, maka perbandingan nya adalah 1 (ragi instan): 1,5 (ragi kering):
3 (ragi basah).
Ketiga bahan di atas merupakan bahan utama untuk
membuat roti. Selanjutnya bahan keempat hingga ketujuh merupakan bahan
tambahan.
4. GaramFungsi garam dalam pembuatan roti, adalah
pembuat rasa gurih, membangkitkan rasa dan aroma bahan-bahan-bahan lain,
meningkatkan ekstensibilitas adonan, mengontrol aktifitas ragi dalam
proses fermentasi dan berfungsi sebagai pengawet. Garam juga memiliki
astringent effect, yakni memperkecil pori-pori roti.
Pemakaian garam
dalam keadaan normal berkisar 1,5-2%. Pemakaian garam lebih rendah dari
1,5% akan memberi rasa hambar, sedangkan pemakaian lebih dari 2% akan
menghambat laju fermentasi.
5. GulaGula dalam pembuatan roti
berfungsi sebagai sumber energi bagi ragi. Risidu gula yang tidak habis
dalam proses fermentasi akan memberikan rasa manis dan warna kecoklatan
(golden brown) pada roti. Jumlah gula untuk fermentasi ± 2%. Gula juga
berperan pada proses pewarnaan kulit (karamelisasi gula) pda pembakaran
di oven pada temperatur 150ÂșC. Gula juga bersifat pengawet
(preservative) atau meningkatkan daya simpan roti. Pemakaian gula lebih
dari 8% pada roti tawar akan memberikan sifat empuk yang berlebihan
sehingga bentuk roti tidak tegar, sedangkan pada roti manis sifat empuk
terjadi pada kadar gula 15% ke atas. Peningkatan jumlah gula dalam
adonan harus diimbangi dengan penambahan jumlah ragi agar proses
fermentasi tidak terganggu.
Jenis dan bentuk gula untuk roti dapat berupa gula tepung (maltose), gula pasir (sukrosa), gula cair (fruktosa) dan sirup.
6. SusuSusu berfungsi sebagai peningkat gizi. Kandungan gula pada susu memiliki sifat yang sama, yaitu sebagai pewarna kulit.
Protein
susu mengandung banyak lysine (asam amino) yang kurang dalam tepung
terigu. Diharapkan dengan pemberian susu, memberikan gizi yang lengkap.
Susu juga sebagai penambah aroma dan cita rasa. Jenis susu yang ideal
adalah susu bubuk nonfat.
7. LemakJenis lemak untuk roti
adalah shortening berbentuk padat dari tumbuhan atau hewani. Margarin
terbuat dari minyak bantai, sedangkan butter/mentega terbuat dari minyak
hewani. Pastry/ korsvet adalah margarine yang dikeraskan.
Lemak
berfungsi sebagai pelumas adonan pada pengembangan sel sewaktu final
proof (pengembangan akhir), yang akan memperbaiki roti. Di samping itu,
dapat menjadi pengempuk, membangkitkan rasa lezat, membantu menahan gas
karena gluten lebih mengikat udara dan membuat volume roti menjadi
lebih baik serta membantu/ mempermudah sifat pemotongan (slicing).